Selasa, 30 Agustus 2016

MOZAIK

30 Agustus 2016






Di penghujung bulan dirgahayu, gerimis turun sesaat, 15 menit mungkin untuk pagi. Baris kami di sana, duduk di atas rumput tanah basah diguyur. Bersama-sama bingung dan semangat jadi satu. Satu jam pamit, undur dengan roti dan camilan, takut kalau lapar datang, mereka hilang. Terimakasih Tuhan, kau teduhi kami.


Anak Diploma IPB


“BANGUN! AYO PECAHKAN REKOR DUNIA!”






Lari kami berdampingan, sengaja dipertemukan, untuk tujuan yang tinggi. Nampak rapia dan duplet di tengah lapang. Penuh algoritma dan pemikiran strategis, rumit dan atau tak terbayang. Tak apa, hujan sudah berhenti, masuk sinar matahari menghangatkan tubuh yang basah. Sejam berlalu, matahari bersemangat menyinari, terlalu semangat sampai panasnya bisa kurasakan.



Satu jam sering berlalu di sini.  Tak paham panasnya neraka, cukup di sini saja, jauhkan aku dari panas api neraka, Ya Rabb. Namun semangat pantang pudar, bandel seperti noda pada hati. Andai mereka tahu, aku tahu mereka lelah, harusnya mereka tau.



Ancang-ancang



Halangan tak pernah absen, panas matahari tak mau pergi, awan izin absensi. Sampai kapan teman2 mesti menunggu? Yang tak kuat mental teriak2 kepanasan, yang lemah fisik jatuh pingsan. Cobaannya luar biasa, hampir saja aku mengeluh, namun hati ini takkan pernah rela.





“MULAI MEMBALIK HALAMAN!”





Halaman silih berganti, lambat laun dari satu hingga tujuh. Sudah lelah keberatan mengangkat beban, diulang kami diperintah. Begitu tahan sekian lama.  Hingga tiba saatnya, satu lagi mimpi jadi nyata.




“Lets do it.”




Siap. Sedia. MULAI!




“MEDIS!! MEDIS!!”




Satu lagi anak bangun runtuh. Sayang sekali, maka dipanggil menit2 cadangan untuk mengisi kekosongan. Panas tak tertahankan, keringat senang pergi keluar. Tanpa pemikiran matang anak bangsa, mimpi pasti berantakan.




“SIAP! KITA MULAI LAGI!”




Siap. Sedia. MULAI!


Satu! Gambar apa ini? Dua! Ada yang tahu tidak? Tiga! Ah berat sekali duplet ini. Empat!  Lima! Enam! Tujuh!
Selesai sudah. Terpikir untuk berlari, sampai ternyata masih ada satu lagi rekor harus pecah. Maka diulang sekali lagi. Namun tak satupun kami mengeluh, semangat tak luntur2. Maka diulang sekali lagi. Maka diulang sekali lagi.




“SELAMAT! KITA BERHASIL!”














Lari aku ke depan, lompat sana, situ, dan sini.


Rekor duniaku, kebanggaanku. Prestasi kami.
Mereka bilang kami meniru, maka mereka panggil aku peniru. Sudahlah, memang begitu cara kerja dunia. Mereka caci, AWAS PROVOKASI! Padahal mati2an kami melawan panas hujan, sakit2an menguatkan mental.


Di sana iri, sebut kami plagiat.

Di sini subuh subuh subuh, suka deh sama kamu.

Minggu, 28 Agustus 2016

MPKMB 53 : DAY 2 Masa Pengenalan Fakultas

27 Agustus 2016, hari kedua dari 5 hari rangkaian MPKMB 53 yang telah direncanakan.



Agenda hari ini adalah perkenalan fakultas.







Kegiatan di pagi hari tetap sama seperti hari sebelumnya, cuman yang beda adalah yang tadinya kita berbaris masuk laskar and garda masing2, sekarang kita masuk barisan fakultas masing2. So, masuklah gue ke dalam barisan anak2 FMIPA. Ga perlu ribet nyari barisannya sih sebenernya, udah keliatan dari wajah2 warganya, wajah orang susah. Susah lepas rumus wkwkwk.







Setelah negosiasi banjar dan shaf, berangkatlah warga baru FMIPA menuju GWW. Lucunya hari ini GWW cuman ada anak FMIPA. Sungguh terhormat fakultas pencetus inovasi2 terbanyak di IPB ini. Terhormatnya fakultas dengan jumlah departemen terbanyak ini -9 departemen. Terhormatnya fakultas dengan dosen2 dan mahasiswa2 terbaik Indonesia ini.
Bangga saya bisa menjadi bagian dari FMIPA IPB.




Bagaimana dengan kegiatan di GWW?



Selayaknya susunan acara yang normal, acara dibuka dengan basmalah, pembukaan oleh MC yang juga merupakan mahasiswa/i FMIPA. Acara pertama yang tertera adalah pembukaan oleh Dekan –Dewan Perwakilan- FMIPA IPB, Dr. Ir. Sri Nurdiati, M. Sc. Beliau membuka acara sekaligus memberikan semangat kepada kami anak awam, menghilangkan galau berkepanjangan. Di sini gue sadar, gue ga salah pilih IPB.


Ada yang pernah ngerasain sistem kurikulum mayor minor? Gue masih ga paham sama ni kurikulum sampe sekarang.


Jadi salah satu syarat wisuda di IPB adalah keharusan untuk menuntaskan 144 SKS dalam tempo yang tercepat dan efisien. Di tahun pertama atau tahun PPKU atau TPB –Tahun Paling Bahagia- itu kita dikasih 36 SKS, total SKS mayor adalah 90 SKS. Kesimpulannya kalo gue ga ngambil minor sama SC, gue udah megang seengganya 126 SKS –masih dalam tahap pendugaan yang mendekati kebenaran- yang nantinya akan menunjang kelanjutan pendidikan gue di sini.


Ada saran dari salah satu orang berpengaruh di IPB, Dr. Ir. Kiagus Dahlan. Beliau menyarankan agar mahasiswa/i memilih SC –Support Course- yang mudah untuk mempercepat masa kuliah, usahakan yang sekiranya kita duduk doang langsung dapet “A”. Pak Dahlan sendiri adalah pemberi materi kefalkutasan di acara MPF FMIPA IPB hari ini.


Selain acara2 berbasis pengenalan fakultas, dihadirkan pula berbagai manusia yang menjadi motivator dadakan, sebagian terlihat berpengalaman. Mulai dari mahasiswa penemu program anti-porn, mahasiswa/i segudang passport, sampai bapak alumni yang kalo ngomong, gaya bicaranya kaya raja Benteng Takeshi.




Gue duduk paling depan coy




Lelah nyimak, hari sudah di tengah, digiringlah anak2 susah menuju Al-Hurriyah –masjid agung IPB- yang berjarak –mungkin- 3 kilometer. Lapar. Seandainya mengucap lapar adalah tindak kriminal, pasti aku tak berkepala karena sebut lapar tak terhitung jari kali. Kenyang aku makan lapar.




Balik lagi ke GWW, acara dilanjutkan hiburan2, sampe akhirnya gue boleh pulang wkwkwk. Cape gue dibuat pusing. Cape dibuat laper. Tapi alhamdulillah gue dapet konsumsi. Gatau kenapa... mentang2 institut pertanian kali ya.. makanannya itu nagih banget. Apa karena gue laper kali wkwkwk.

Tapi asli, lu mesti coba makanan2 hasil inovasi anak IPB, dari nasi analog yang bukan dari padi (beras), buncis yang rasanya gurih, telor apalah tau, sampe semangka manis tanpa biji.




Udahan dulu ya. CAPE NIH!? Wkwkwk

SEE YA!

Jumat, 26 Agustus 2016

OSPEK Kampus Rakyat

26 Agustus 2016
Maba-maba emesh IPB sedang melaksanakan MPKMB 53 –termasuk gue. Kita dikumpulin di lapangan basket ASTRA –asrama putra- jam 5.30 pagi buat dimobilisasi perjalanan menuju ke GWW.







Sebelum menuju penjelasan lanjutan dari hari pertama MPKMB 53, gue mau ngejelasin kubu2 yang terdiri dari manusia2 harapan bangsa beberapa dekade ke depan.


 Jadi para maba peserta MPKMB 53 yang dikenal dengan nama Garda Adhikarya itu dibagi lagi menjadi 5 garda yang memikul tujuan dan filosofi di dalam arti masing2 namanya.

Adapun 5 garda tersebut adalah:
1



Adhiwiyata (Pendidikan)


Balakerta (Budaya)


Bhayangkara (Pertahanan)



Tarunasita (Pertanian)


Aptiguna (Teknologi)



Nah gue masuk ke dalam garda 3, Bhayangkara.
Dari 5 garda itu, masing2 garda dibagi lagi menjadi 30 laskar -6 laskar/garda. Dan gue adalah bagian dari laskar 14, yaitu Laskar Soedirman.



Penampakan Laskar 14 Soedirman



Kembali ke pembahasan awal, setelah pengecekan barang bawaan, SOP pakaian, atribut, dan teman2nya, tiba waktunya kita berangkat –jalan kaki- ke GWW.
Berhubung larangan membawa HP, jadi gue ga ada foto2 MPKMB 53 yang diambil right on place, yang ada hasil jepretan panitia yang gue download di OA MPKMB 53.



“Dua banjar! Mepet kiri! Kejar barisan depanmu loh dek!”
Imperatif Komdis yang legendaris

Terus di GWW ngapain?


Sampe GWW, gue disuruh lepas sepatu sama komdis. Sombong banget sih IPB, mentang2 dipakein karpet, alas kaki harus dibuka wkwkwk.

Di sana kita nyanyi2. Suasananya itu dah kaya konser Iwan Fals tau ga sih wkwkwk. PECAH.
Ya gitu lah pokoknya. Ada pembukaan dari rektor, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M. Sc. Pembukaan dari Pak Gubernur, Ahmad Hermawan. Pembukaan BEM. Beragam rangkaian pembukaan. Penampilan teater kolosal.



Pak Aher berfoto dengan Rektor IPB






Yang bikin susah lupa itu pas penampilan Agriaswara. PECAH 100%. Coba deh lu nonton penampilan mereka di youtube. Mereka kaya ga pantes gitu buat tampil Nasional, mainnya mereka itu sekelas ASEAN. Ya lo nonton sendiri aja kali ya.



Ada ga sih kegiatan outdoornya?


Ada kok. Nih cek aja foto2nya.

Semangat jargon, Bang

Ini lagi pawai karya

Pembagian konsumsi ke-2 -beras analog, salah satu inovasi IPB-

 Selain kegiatan2 di atas, sebenernya masih banyak banget kegiatan2 lainnya, cuman kebanyakan wkwk.

Yah pokoknya hari ini pecah banget lah. Biasanya gue ngegerutu, tapi gue mikir lagi, mengeluh itu ga ada untungnya sama sekali. SO NIKMATIN AJA LA YA! Wkwkwk

SEE YA NEXT TIME (sorry ya entrynya gaje, namanya juga blog gaje)

Kamis, 25 Agustus 2016

BERANGKAT NGOBONG

Selamat malam



Kabar apa kali ini? (Ya fix, gue kaya news anchor)



Jadi, kemarin pas tanggal 18 Agustus, gue daful sekalian check in asrama  IPB.
Saran aja sih ya, ga ada kata kepagian untuk kegiatan yang melibatkan orang banyak.
Dari rumah berangkat shubuh, sampe sana jam 9.30, dari Baros, Sukabumi, tujuan Dramaga, Bogor. Buat lo yang mau ke IPB Dramaga, gue kasih tau Dramaga itu macet. Jangan dinanti2 kalo mau perjalanan jauh, datang lebih dini lebih baik daripada terlambat. Nanti kalo nyesel nyalahin siapa?
Bawa camilan buat di jalan, biar ga bete kalo macet, mending nyemil2 kan daripada mengeluh.





Sampai di IPB ngapain aja?



Gue turun di depan GWW, naik tangga menuju pintu masuk lantai 2. Di-stop kating panitia MPKMB. Disuruh foto copy file berita jadwal daful yang digunakan sebagai bukti bahwa gue berhak dan berkewajiban untuk daful di hari tersebut. Sadar diri belum fc, gue jalan ke bara buat fc. Ngantri. Sante aja, namanya juga berita dadakan, pasti banyak yang baru tau, wajarlah. Udah selesai fc, ternyata masih ada satu file yang harus di-print. Akhirnya tambah destinasi baru menuju tempat printing. Ngantri lagi. Selesai semua persiapan, yakinin diri bahwa ga perlu balik lagi ke bara, gue langsung balik ke GWW.
Masuk GWW ngantri lagi. Cuman ngantrinya sambil duduk, sambil kenalan kanan kiri. Ada idam di sebelah kanan gue dan entah siapa di sebelah kiri gue. Setelah ngantri kurang lebih 30 menit, gue turun ke lantai bawah, buat ngantri 10 menit. Sambil nonton manusia2 dikerjain dosen buat nyanyi di atas panggung, beberapa katanya ada yang disuruh adzan.

“Bayu Pranoto”

Nama gue disebut. Berangkatlah gue ke meja panitia mpkmb, bagian pemeriksaan kelengkapan berkas. Asli, dosennya baik banget. Kalo yang lain dikerjain buat nampilin sesuatu di atas panggung, mau itu bakat atau kutukan, dosen yang di seberang meja gue malah nanya arti nama gue. Ramah pula, ngasih motivasi, nyemangatin gue. Terima kasih banyak, Bu.
Selang 10 menit, jalanlah gue ke meja pemeriksaan biaya UKT. Dosen di sini jutek parah. Gue paham sih, pasti bosen meriksain kelengkapan berkas 3900 manusia.
Selesai berhadapan dengan segala macam pemeriksaan berkas daful, gue menuju lantai 2 lagi. Di sana gue ngantri lagi buat pembagian almet. Belum sempet kebagian, keburu ISOMA –istirahat shalat makan.



Ini suasana menunggu ISOMA di GWW.





1 jam isoma lewat, tiba waktunya pembagian almet, gue ambil ukuran L. Udah kebagian dan merasa ganteng, ngantri lagi buat pemotretan KTM.

“Siap, mas?”

*CKREK

“Bagus banget, Bay.”

Dipuji tukang foto, takut salting gue wkwkwk.
Done. Well done. Time for check in  the dormitory at CCR –Common Class Room.





Ada yang tahu CCR itu dimana?



Lumayan jauh lah buat pemula kaya gue. Rutenya GWW-FAPET-FMIPA-CCR.
Di sana gue udah bawa data diri dan persetujuan ortu yang udah ditandatangani di atas materai 6k. Di sini gue dikasih kunci, wajib beli PIN 10k, sebagai tanda bukti camaba IPB 53.


Ini kunci sama PIN camaba IPB 53.
Entar deh gue ceritain rinciannya.
Till the next entry.



Selesai sudah semua macam pemeriksaan, waktunya masuk asrama.





Sebelum masuk sesi cerita tentang asrama, kayanya ada yang kurang kalo ga ngebahas persiapan gue buat masuk asrama. Lo mau tau? Gamau ya? Ya udah sih ya gapapa. Ini kan blog gua, SUKA-SUKA GUA DONG!?





Jadi apa aja sih persiapannya?



Jadi ni ya, gue itu mau “ngobong” -bahasa sunda dari nge-asrama- itu cuman bawa 4 kaos, 3 celana panjang, 3 kemeja, 1 jaket, 1 sweater, 1 baju muslim, 2 sarung, 1 peci, 1 celana pendek, 9 daleman, 3 pairs of shoes, 3 pairs of socks –a pair of black socks, the other pairs are white socks, seperangkat alat makan tanpa gelas minum, alat mandi, 3 pocket books –bio, kimia, fisika, 3 buku binder, alat tulis, sisir, pomade, botol minum non-kemasan, lepi, alat shalat –udah termasuk Al-Qur’an, charger, fd, powerbank, atribut MPKMB sama berkas2 penting.
Semua itu dimasukkin ke dalam satu tas carrier, tas kecil, sama koper.




Kenapa gue gunakan kata “cuman”?



Karena memang baju yg gue bawa itu ga cukup buat seminggu –terlebih kaosnya kurang.




So, how you face those situations?



Berhubung udah jamal.
Gue ga jawab sekarang.
Stay tune for the next entry, guys.

Rabu, 24 Agustus 2016

Kisah Asem Ketiak Pengangguran

Malem geng.
Lagi nyari apa lo?
Sampe bisa masuk sini wkwkwk.

Gue pengen cerita nih, jadi kemaren tuh kan gue ikut test UTM IPB. Guess what? Gue gatot, alias gagal total!
Ya udah sih ya gapapa. Semoga ini bisa jadi pembelajaran buat kita semua, kalo hidup itu ga selalu tentang keberhasilan.

Jadi dimanakah sekarang gue berada? Di rumah? Di pasar? Di emperan?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.


YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!
Gue jadi kuliah di IPB wkwkwk. Alhamdulillah. Sekali lagi Alhamdulillah gue masuk jalur SBMPTN, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, depertemen Fisika.
Dengan segudang persiapan pendaftaran, pembagian waktu keberangkatan, persiapan diri, persiapan perbekalan buat di asrama.


ASRAMA!?


Iya lo ga salah baca. Jadi buat semua maba IPB, kita wajib tinggal di asrama selama SATU TAHUN, tepatnya 10 bulan. Jujur, gue baru pertama kali ini masuk asrama. Jadi ya so-so excited gitu.

Ya udah sih ya, namanya juga maba, masih semangat kuliah.