Malam ini jatuh, dentumannya menjaga aku agar tetap jadi
yang susah lupa.
Bulan sudah berganti, hari sudah berganti, tapi aku tetap
sama, yang susah lupa.
Besok, jam 8 harus sudah ngampus, tapi aku ada di 00.43,
bercerita pada layar.
Kemarin aku suka bangunan, kemarinnya lagi aku suka pukulan,
sekarang aku susah lupa.
Aku pada hujan, tetesnya membawa ingatan, manis dan getir.
Tapi jangan terlalu lama, nanti kau pusing, sakit dibuatnya.
Butir hujan datangnya keroyokkan, ga ngasih waktu buat lupa.
Bahkan saat hujan di luar, tetesnya masuk dalam kamar,
padahal atap tak bocor.
However, rain is still my favorite menu.
Ditemaninya aku bercerita, usai kerja tugas selesai, usang
datang lagi, jadilah aku susah lupa.
Sekarang pagi tiba, hujan sudah tiada, tapi aku tetap susah
lupa.
Ingat pernah 3 tahun, hingga pulang.
Sayang hanya raganya, hatinya hilang.
Pada 4 masih hilang, 5 tak kunjung ditemukan.
Hingga di 6 aku sadar, hatinya hilang, tak akan pulang.
Di 6 raganya hilang, tapi visualnya tinggal, meninggalkan
susah lupa.
Sekarang aku tidak lupa, kunikmati saja, biar bosan aku
ingat, biar bosan susah lupa.
Lelah bosan susah lupa.

Please keep writing, this one's esp my favorite.
BalasHapus