Kamis, 08 September 2016

Temanku, Bu

Sore tirai oranye, malam jatuh tirai terbuka kembali.
Alang tugas bayang masa depan, Jack The Ripper keluar dari sarang.
Percuma belajar, kepalaku pening, mungkin terlalu banyak gula.
Datang saat tersungkur, selama kepala tetap tinggi, pening pergi.











Temanku banyak di sini, Ibu.
Satu jadi campuran heterogen, sifatnya tapi seperti sirup.
Andai teraduk, susah dipisah.


Temanku baik di sini, Ibu.
Bangunkan aku saat fajar, tidur sekamar di awal pagi.
Berangkat bersama, meski kadang jalanku terlalu cepat.



Temanku bijak Ibu.
“Raja-raja mati, rakyat miskin mati.”

Mau dengar aku nyanyi, padahal kupingnya sakit, perutnya mual.



Kini gerimis berkunjung, dioleh-olehkannya semerbak bau hujan.
Kumandang panggilan ibadah, tanda malam telah tiba.
Krik... krik... krik...
Penghuni malam berpesta pora.
Celepuk burung hantu saut-sautan, jangrik riang gesek biola kaki.




Temanku ramai di sini, Ibu.
Tadi aku jadi vampire, jadi guardian.
Bunuh serigala jadi-jadian.


Temanku pintar, Ibu.
Kerjakan quiz biologi, selesai kerja hati-hati.
Nilainya cukup untuk hidup seminggu.



Jangan khawatir, Ibu.
Rinduku dari setiap aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar